Pernahkah kamu membayangkan, seandainya manusia tidak punya mimpi, harapan dan cita-cita. mungkin dunia ini teramat datar, atau bahkan tidak ada kehidupan sama sekali karena berarti manusia tidak mempunyai misi atas hidupnya. Yah, persepsi hidup mungkin berbeda untuk setiap orang, tapi inti di dalamnya adalah kita ada untuk suatu misi. Buruk dan baik ada membayang bersama misi itu.
Seorang sahabat bilang, dengan bermimpi segalanya jadi mungkin selagi kita mempercayai mimpi itu. seperti halnya keajaiban, yang akan menerimanya adalah orang yang mempercayainya. Bermimpilah selagi kau bisa. selagi kau masih punya semangat, selagi kau masih menengadahkan wajah untuk menatap masa depanmu. Bermimpi merupakan salah satu bagian misi. entah kita bisa mewujudkannya atau tidak, tetapi setidaknya kita pernah membayangkan hidup ini lebih bermakna saat mimpi itu terwujud, meskipun pada akhirnya diwujudkan orang lain. Karena tak pernah ada seorang pun yang hanya memiliki satu buah mimpi.
Segala benda dan penemuan yang ada di hadapan kita adalah hasil impian (kalo yang sekarang ada di hadapan pembaca n para blogger yang membaca tulisan ini sudah pasti ada layar monitor atau layar HP :D, dan tentu saja itu juga hasil "pengandaian" manusia). Bahkan fir'aun pun berani berandai jadi Tuhan, bukan?
berpuluh ribu tahun yang lalu, ketika manusia melihat burung yang melayang bebas di angkasa mungkin sudah bermimpi "seandainya suatu hari aku bisa terbang", dan baru bisa diwujudkan beberapa abad lalu. meskipun kadang bagi kita, dipuji sedikit juga udah bisa terbang lebih tinggi daripada pesawat :P
Bermimpi tak pernah ada pengekangan di dalamnya. mimpi itu tidak terbatas, bermimpi apa pun adalah hak kita. Jika kita tak pernah berandai-andai, hidup ini tidak akan pernah ada dan seandainya demikian, tulisan ini pun tidak akan pernah ada. Tidak akan ada seorang Geno yang ngeblog dan berceloteh tentang mimpinya :P
Seandainya Orang Tidak Berandai-Andai
Purwokerto - Cilacap
Akhirnya pulang juga ke rumah. Lima hari kemarin -lagi-lagi- dihabiskan di rumah kakakku di Cilacap... Tuntas juga keinginan ngeliat laut n duduk berlama-lama di dermaga menikmati sore hari sampai akhirnya nelayan berangkat mencari ikan, jogging sepanjang pantai, ngeliat anak-anak kecil maen bola n terjun bebas ke laut, sampai memperhatikan awan yang mengepul di atas pabrik holcim n PLTU dari kejauhan.Hmmm polusi itu pasti bisa memperburuk paru-paruku. Kakakku bilang terapi air laut bisa mengurangi bronkhitis, mungkin karena laut mengandung garam ya, jadi bisa ngefek, kan kuman mati ma garam (maksa kaaaannnn :D)... Sayang, pantainya kotor :(
Ini baru pertama kalinya ke Cilacap naek motor. Selain gak dikerjain calo bis, ada satu hal yang baru aku sadari dari perjalanan pulang dan pergi ini. biasanya kalo naek "kendaraan bersupir" gak terasa bedanya, tapi kalo naek motor pasti lebih paham kalo ternyata jalanan pas berangkat lebih muluzzz daripada pas pergi. Yup! dari arah purwokerto, jalan ke arah cilacap lebih halus dan ga banyak berlobang. tapi pas pulang dari cilacap ke purwokerto, ternyata jalanannya lebih bikin dangdutan jadi kemaren rada-rada pegel juga. Mana ujan gede. Truk Industri juga lagi banyak. Kalo dipikir-pikir, jalan sebelah kanan dan kiri beda kemungkinan dikarenakan muatan truk industri dari arah cilacap lebih berat karena dari pabrik akan didistribusikan ke daerah lain. sedangkan kalo dari arah purwokerto atau kota lain, truk-truk industri itu pulang bawa muatan kosong jadi jalanan dari arah purwokerto lebih lancar n halus karena beban aspalnya gak terlalu berat.
Di cilacap sendiri, jalan raya itu lebar-lebar banget (jalur truknya -lagi2- banyak lobang), mungkin lebarnya bisa sampai dua kalinya jalanan di purwokerto. Dan kalo aku bilang purwokerto itu kota sepi, maka cilacap lebih sepi lagi (gak ada kampus soalnya, jadi kebanyakan remajanya masih brondong-brondong anak SMA dan pendatangnya juga gak terlalu tumplek) Tapi di dalam Kota kecil yang sepi itu, industrinya memang lumayan banyak, salah satu yang terbesar adalah pertamina yang juga makan tempat lumayan banyak, "pabrik listrik" PLTU yang baru, terus pabrik semen Holcim dengan asapnya yang mengepul itu (sebelum dibeli holcim, namanya kalo gak salah pupuk nusantara). kemaren sengaja nyasar ke kawasan industri itu. Busetttt truknya gedhe2 bgt, pintu gerbangnya juga mantabh, pabriknya apalagi (hehehe.. keliatan ndesonya). lalu pabrik pupuk sriwijaya, industri perikanan, pabrik es batu juga lumayan ada beberapa (ini biasanya untuk para nelayan yang melaut butuh es batu untuk membekukan ikan supaya tetap segar), lalu ada beberapa industri kecil lain yang aku ga tau jenisnya :P.
Tapi.. lebih dari itu... tujuan utama ke cilacap adalah............. mencoba sinyal 3G Indosat!!!! hasilnya???? lumayan memuaskan, download cepet dan beda sama flash, sinyal di sini lebih stabil. kenapa harus ke cilacap? pertama, purwokerto gak ada sinyal 3g Indosat (baru ada Telkomsel ma XL), tapi di Cilacap ada (malah gak ada Telkomsel). Kedua, temenku bilang, di yogyakarta sinyal 3g Indosat juga gak memuaskan, kemungkinan disebabkan karena faktor banyaknya pengguna (Yogya gitu loh), sampai kata "Indosat 3G" diselewengkan jadi "Indos*ck 3G". nah di Cilacap si ada apa? karena seperti yang saya bilang, ini adalah kota sepi yang gak ada mahasiswa jadi internet juga sepertinya belum banyak yang pake, jadi gak terjadi rebutan bandwith. kalopun ada pengguna internet, ya pasti industri-industri itu yang pastinya pake jasa ISP lebih bermodal daripada yang cuma 100 ribu/bulan :P
Gak tau juga sebenarnya aku masih bingung sama marketingnya Indosat, kenapa lebih milih cilacap daripada purwokerto untuk pengadaan sinyal 3Gnya, padahal di purwokerto kalo aku lagi bayar atau konsultasi ke CS telkomsel flash, antrian pengguna jasa internet juga lumayan banyak. ditambah lagi,banyak mahasiswa di sini karena purwokerto punya beberapa kampus, salah satu yang lumayan besar adalah Unsoed. Bandingkan saja jumlah warnet di purwokerto vs cilacap.
:)
Batas
Temenku bilang "berarti kematian itu bukan batas, ya". Entahlah, mungkin iya. Koneksi antara yang di sini dan di sana mungkin memang tak ada sekat. Mungkin seperti saat kita tidur, baik yang abadi atau sementara, keduanya mungkin tak ada bedanya. saat itu jiwa kita sedang meninggalkan dunia. Badan hanya pakaian sementara, tetapi jiwa adalah abadi, dan ke mana jiwa kita saat tidur, aku mungkin tak akan pernah tahu.. Misteri tuhan yang ini tidak sanggup dinalar. Yah.. mana kita tahu...
Read full articlePemuda dan Idealisme
Hari ini aku nulis lumayan banyak (halah, cuma dua juga... eh tiga sama ini ding), sebenarnya tiga topik ini pengen kubuat satu judul tapi karena kepanjangan jadi kubagi dalam tiga posting. Ini masih berbicara tentang pergerakan mahasiswa saat ini.
Makin tambah usia, biasanya seseorang makin maju. Makin pintar sih engga, tapi pastinya makin banyak pengalaman, belajar dari masa lalu. memperbaiki masa lalu dan makin matang. Seharusnya seperti itulah yang terjadi pada suatu bangsa. Makin ke sini makin maju. tapi yang saya lihat tidak demikian. Ketika saya tanya kepada teman saya "melihat fasilitas SMA kita tahun ini yang lebih segalanya dibanding jamannya kita pertama kali menginjakkan kaki di SMA delapan tahun lalu, apa kamu mau seandainya ini jadi tahun SMAmu?" dan dia menjawab "tidak, karena yang bersekolah di situ hanya orang kaya " barangkali hal ini mungkin ditanyakan kakak senior kampusku angkatan tahun 1998 ke temannya perihal anak-anak baru angkatan 2003.
tahun 2002 kampusku sudah jadi kampus otonom. ga nerima subsidi pemerintah. seperti sekolah swasta (yang ini berstatus negeri), kampus kami juga menarik bayaran tinggi karena tidak disubsidi lagi. Tahun kelulusan SMAku (2003) bisa dibilang semacam tahun percobaan. ada UM universitas X pertama kali, sistem nilai kelulusan ter-rendah mulai diberlakukan (waktu itu 4.00), kampus otonom, istilah uang gedung yang dinamakan BOP (katanya sih pengganti uang praktikum. Lah praktikum apa? emang kedokteran yang butuh laborat?) dan.. apa ya.. lupa.
Dari situ mungkin lahir generasi-generasi yang didominasi orang-orang kaya. Kupikir tahunku itu sudah lumayan parah, tapi menginjak usia di tahun-tahun ini aku melihat generasi kuliahan yang seperti ABG saja. Apa mahasiswa sekarang akselerasi semua ya? lulus SMP langsung lompat ke kelas 3 SMA. Kuliah itu kan usia 18-22. tapi gayanya masih kayak anak usia 15-an yang lagi puber. Engga cowo engga cewenya sibuk fashion ma nongkrongin MP3 player. Apa generasi seperti itu yang akan mengubah bangsa ini? pemudanya jadi makin genit, makin kekanakan, orientasi kedewasaannya melambat.
Bukan. Bukan hanya itu. Seperti yang saya bilang, lagu adalah doktrin bawah sadar penikmatnya. Lagu-lagu jaman sekarang tidak ada yang peka, semua tentang senang-senang dan gaya anak muda. Iwan Fals aja pernah masuk ke majalah time sebagai Suara Asia. Tingkat Asia lho. Harusnya dah dapet gelar honoris causa. Kalau anda menengok ke musik metal mungkin engga heran ya karena banyak lagu-lagu yang mengkritik pemerintahan di negara mereka. Tapi bang Iwan adalah orang yang luar biasa. Dia punya dua kehebatan dibanding pemusik lain. Pertama, dia adalah satu dan hanya satu-satunya pemusik yang berani menyuarakan hal itu. Kedua, dia berada di negara yang pemerintahan saat itu bisa dibilang sangat berbahaya jika dikritik, itu berarti dia siap mati. Tapi lihatlah, dia hanya seorang Iwan Fals yang akhirnya mendapat simpati ribuan rakyat. cukup satu Iwan Fals yang menyuarakan nurani dan kita bisa jadi orang yang peka, meski kecipratan sedikit saja peka itu, saat ini.
Saya bilang, industri musik jaman sekarang sangat komersil. Mungkin yang paling parah manajemennya bukan pemusiknya. Semua hanya untuk bisnis dan pembodohan bangsa. Fashion dan trend itu pembodohan. Lihat saja global TV itu, mereka pikir mereka anak gaul. atau pengikut changcuter adalah anak gaul dan fans kangen adalah kampungan. Pentingkah itu? mentang-mentang utang ke amerika banyak ya jangan jadi budaknya donk, apalagi dalam hal pemikiran yang seperti mereka. Amerika hanya bangsa budak yang gak punya sejarah dan budaya.
Jadi, masihkah bermanja-manja dibalut musik komersil? atau perubahan itu tidak pernah ada? Akankah pergerakan itu tidak dipelopori mahasiswa, tapi kaum tertindas?
Ssshhhh geno!! Bangunlah sejenak dari mimpi!! :)
Indonesia dan Titik Baliknya
Percayakah anda dengan istilah sejarah yang berulang? I do. Bahkan untuk istilah reinkarnasi (tanpa ada maksud untuk menghubungkan dengan agama tertentu), saya menyebut itu sebagai karma yang berulang dalam periode tertentu. Itu yang biasa kita sebut roda kehidupan. Kadang di atas , kadang di bawah. Berputar dan kembali pada titik mula, atau titik balik saat kehidupan "baru" itu dimulai dari nol lagi.
Di sini saya ingin menyoroti titik balik negeri kita tercinta. Tentang resesi. Titik balik terjadi sekitar 15 tahun sekali. dari resesi tahun '66, '81, '98. Di belakang semua itu ada: Mahasiswa, kaum berpendidikan yang ingin mengubah nasib bangsanya. Tidak cuma masa resesi saja, pada masa kemerdekaan pun yang membuat Indonesia bebas adalah Pemuda, bukan bambu runcing. Ah, ya jika ada orang bilang bangga dengan masa lalu Indonesia, saya sebenarnya tidak setuju dengan kalimat itu. Menurut saya orang Indonesia lahir dengan darah yang sama dengan yang mengalir di tubuh kita dan pemimpin kita saat ini. Perang Padri misalnya, perang antara kaum padri (Ulama) dengan kaum adat mengenai dasar-dasar Islam seperti judi, miras, mabuk. itu saya lihat seperti orang-orang FPI bawa pentungan nggrebek klub malam. Lalu perang Diponegoro yang didasari bukan karena ingin mengusir penjajah dari tanah Indonesia tapi karena makam leluhurnya dibongkar untuk dijadikan jalan Yogya-Semarang, cek saja di sini. Sebenarnya masih banyak analisa yang ingin saya cantumkan tapi takut kebablasan. Belum siap mati nih. hehehe..
Bangsawan-bangsawan itu kemungkinan juga punya affair dengan Belanda. Selama 350 tahun dijajah, hanya ada sekitar 50 tahun periode Indonesia akan dikeluarkan dari masa lalunya yang mendarah daging hingga kini. yaitu era 1900 (tepatnya ketika kaum pemuda berpendidikan bangkit pada tahun 1908) dan berakhir ketika era Presiden sukarno dikudeta Suharto untuk dikembalikan ke masa lalunya, di mana penguasa adalah pengkhianat rakyat seperti saat ini.
Entah Pak Harto atau bu Tien dan antek-anteknya di balik semua itu karena sejauh analisa saya, zaman dulu, seharusnya darah lumpur (Suharto) tidak bisa disatukan dengan darah biru (Bu Tien). Lagipula ke mana Pak Harto pergi, Bu Tien selalu nginthil (ikut). Dan ketika bu Tien meninggal tahun 1996, resesi 1997 runtuhlah rezim orde baru karena Pak Harto gak bisa nge-rem anak-anaknya yang maruk. Beda dengan resesi 1981, kenapa orde baru aman-aman saja padahal banyak kaum seniman dan sastrawan mengkritik habis2an. Jadi pada saat era orde baru, benarkah kesalahan mutlak ditujukan pada suharto atau beliau cuma kambing hitam? Sekali lagi tanyakan kepada rumput yang bergoyang.
Indonesia benar-benar berada di puncak emas saat Sukarno dan Hatta berjalan berdampingan. Bahasa cybernya, mereka berdua ibarat domain dan hosting, atau blog dan posting, unsur yang saling melengkapi. Kaum-kaum pemuda saat itu bisa diibaratkan tokoh-tokoh yang siap mengajak Indonesia keluar dari masa lalunya. Sebagai bangsa baru yang disegani karena seperti yang bung Hatta katakan, kata-kata Sukarno bagaikan magnet yang dengan mudah dapat menarik siapa pun yang mendengarnya. Peletakkan dasar2 politik negara, visi dan misi bangsa indonesia kedepan, dan status bangsa indonesia di mata internasional, merupakan kharisma seorang Sukarno. Ajaran intinya adalah membuat bangsa yang berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian nasional dalam budaya.
Mungkin ada beberapa yang kontra dengan pemikiran Sukarno saat beliau menjalankan politik mercusuarnya. Di saat inflasi tinggi kok berani-beraninya membangun monas, gelora senayan bahkan satu-satunya pabrik baja di Asean yaitu krakatau steel untuk menaikkan prestise bangsa Indonesia di kancah internasional. Menurut saya, itu masih dalam tahap wajar karena hanya segelintir yang merasakan itu. Indonesia saat itu sedang mencoba bangkit. semangat nasionalisme masyarakat pasti sangat besar untuk ikut mendukung hal tersebut timbang sekedar bercengeng ria meratap nasib. Apalagi jika punya pemimpin berwibawa seperti beliau. terbukti peran Indonesia di Internasional jadi disegani. Adakah pemimpin seperti beliau sekarang ini? Yang bisa dengan lantang tanpa teks berdiplomasi dengan gayanya yang santai dan "aku.. aku.." gak cuma di Indonesia, di dunia lah.. siapa yang masih bisa seperti itu sekarang?
Ups.. melenceng dari jalur, balik ke sejarah berulang. Indonesia sudah memasuki masa resesi lebih awal lima tahun dari yang diprediksikan. Pak Sumiyana (salah satu dosen yang paling kuhormati karena pemikirannya yang lain dari yang lain. Bukan hanya dosen tapi juga guru spiritual bagi mahasiswa) pernah memprediksikan kemungkinan resesi terjadi tahun 2010-an. dan saat itu mungkin saja banyak orang miskin yang terang-terangan maling di rumah orang sementara tuan rumahnya bawa pistol. orang miskin itu akan lebih memilih berhadap-hadapan saja dan bertanya mau bagaimana lagi, kalo enggak begini saya gak bisa makan. anda menembak saya dengan pistol atau tidak pun sebentar lagi juga saya tetap akan mati. mungkin lebih baik kalau dipenjara sekalian. Hmmmm... dolar sudah di atas angka 12.ooo, tinggal menunggu waktu kapan bom akan meledak. dan akankah mahasiswa yang punya andil mengubah semua itu? Seperti apa Indonesia di masa depan?
Musik Sebagai Apresiasi Kebebasan
Sebenarnya ini bukan masalah seperti yang Koes Plus bilang dalam salah satu lagunya yang berjudul "Penyanyi", dengan syairnya "memang benar penyanyi butuh uang, perlu sandang, perlu pangan, makan kenyang tak kedinginan". Buat saya itu tidak masalah. Meski kalau diresapi baik-baik di era 70an itu, Koes Plus mungkin saja membuat lagu itu dengan maksud menyindir masyarakat karena hanya memandang penyanyi dengan sebelah mata.
Diimplementasikan di era 2000an sekarang ini pun tidak masalah, karena para penyanyi dan grup band itu pun butuh uang untuk bisa hidup. Tapi alangkah baiknya kalo komersialisme itu tidak membuat seniman keluar dari jalur prinsip musik itu sendiri, atau bahasa jawanya kebablasan. Musik itu bukan cuma popularitas dan komersialisme, tapi ia adalah apresiasi dari jiwa kita yang bebas. Tidak memandang pendek hanya dari segi "apa yang disukai pasar saat ini dan akan kami buatkan lagunya". Ibarat seperti orang-orang yang daya pikirnya tidak mau memandang ke depan, ketika dikasih lowong sedikit, maka semakin manja dan melunjaklah dia. Apakah industri musik juga begitu? semakin tenar dan kaya ia, semakin rakus dan membuang idealisme musik itu sendiri. Demi ketenaran, apa pun dijual. Dari prinsip, idealisme, kejujuran dan yang sekarang sedang ngetrend, menjual cinta dan agama/keyakinan.
Karena musik adalah apresiasi kebebasan jiwa, maka kita harus melihat musik sebagai musik itu sendiri. Kalo musik udah dikotak-kotak-in, maka yang ada hanya timbul fanatisme saja terhadap golongan musik tertentu. Dari sini timbul perpecahan, olokan, tinggi hati. Layaknya agama jika sudah disisipi fanatisme berlebih, yang ada hanya orang yang merasa benar sendiri padahal Tuhan itu ya hanya satu, apa pun agamanya.
Mungkin ada dari aliran musik tertentu yang mengolok-olok A atau P, bahwa mereka sama sekali tidak pantas berada di panggung besar dan dielu-elukan karena permainan gitar mereka sangat sederhana dibandingkan aliran musik, katakanlah metal (di sini saya tidak bisa memandang dengan tidak subjektif karena nulisnya susah. jadi maaf kalo blak-blakkan). Permainan mereka biasa bukan karena tidak bisa, tapi karena mereka bermusik mengejar yang pasar sukai saat ini. Lha wong grup metal saja banyak yang aransemennya tidak megah. Saya yakin permainan mereka tidak kalah dengan gitaris lain, tapi anak muda (baca:pasar) di sini tidak akan suka itu... nanti gak dapet duit dong, gimana mau makan? Kehilangan idealisme? Mungkin iya mungkin tidak. Siapa tahu mereka memang suka lagu-lagu yang pasar sukai. tapi jika iya, yang namanya dilema "gak kayak gini ya gak makan" mau gimana dong? Sekali lagi itu sah-sah saja asal jangan kebablasan. Karena lagu adalah doktrin alam bawah masyarakat, maka ciptakanlah yang bermutu. Lalu jika ada penghinaan tentang suaranya Afgan yang katanya lembek lah, ini lah, itu lah.. waktu itu saya tidak tahu siapa itu afgan (pikiran saya saat itu afganishtan) setelah checking checking... wow siapa bilang!! suaranya bagus, lembut dan live-nya juga bagus. meski gak tahu itu dari bakat atau latihan vokal yang berat, suaranya memang bagus. mengenai genre musik? ya suka-suka dia mau nyanyi lagu lembek atau apa, yang jelas suaranya merdu.
Secara subjektif, saya lebih suka metal (terutama power metal), biar kata isinya cuma fantasi atau mimpi tapi memang itulah hidup: untuk mimpi yang ingin kita kejar. mungkin banyak orang berkomentar tentang jenis musik ini, dari yang pecinta metal itu sendiri sampai pecinta afgan. ada yang bilang ini musik ribut dan rusuh, itu pun tak masalah, ya sesuai selera donk. seindah dan semegah apa pun lirik dan instrumen kalo kuping ga mau ya ga bakal suka. alasan saya suka genre itu terutama karena isinya dari dulu sampai tahun 2008 ini masih merupakan apresiasi jiwa yang bebas, dan yang mengapresiasikan musik itu adalah anak muda. Ya, alasan itu, alasan yang bahkan tidak saya jumpai di musik-musik pemuda bangsaku saat ini.
Pemuda bangsaku malah dengan tega menjual agama untuk alasan komersialisme. Cuma karena -maaf- Bulan Ramadhan menjelang, musik-musik religi jadi begitu menjamur. kalo mau bikin musik religi ya jadikanlah Tuhan sebagai inspirasimu, bukan lainnya. Kalo untuk Tuhan, bermusiklah seadanya dan jangan maniak hal lain sampe-sampe banjir job di bulan itu diborong semua. Nyanyinya sih musik religi, eh kuping kanan (apa kiri ya aku lupa) dicoblos pake anting. Nyanyinya musik religi, eh di infotainment ketahuan nonjok orang yang dicurigai sebagai selingkuhan istri. Nyanyinya sih musik religi, eh di album lain yg bukan religi ada lagu yang judul dan isinya tentang kekasih gelap. Nyanyinya sih musik religi, tapi manggungnya bertepatan sama jadwal shalat Taraweh (maklum jobnya banjir jadi sulit bagi waktu). Nyanyinya musik religi, tapi di infotainment diberitakan mau cerai karena punya kekasih gelap. Herannya... yang suka banyak. Dan bagaimana wajah musik religi Islam itu sendiri? coba kita tanya pada rumput yang berjoged, halah rumit! bagaimana kalo melirik ke arah Bimbo bersaudara atau Debu yang notabene bule semua.
Jadi, supaya pikiran kita ga terbelakang, jangan membuat sekat dalam musik. karena hanya satu di dalamnya: kebebasan. Untuk yang suka musik, ayo ciptakan generasi macam bang Iwan Fals, Ebiet G. Ade, Emha Ainun Nadjib, Slank yang dulu. Kalaupun masih suka isi-isi lagu tentang cinta, minimal buatlah lirik dan lagu-lagu romantis ala katon/kla project. Kalo masalah gak anak muda banget atau gak gaul banget, maka kita harus bertanya mau jadi leader atau follower? karena kita nggak hidup menurut doktrin sosiologi anak muda masa kini yang bikin kita cuma jadi generasi tidak peka.






